Brebes-Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, M. Aqsho memberikan pembinaan sekaligus memaparkan materi Keputusan Manteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2024 tentang Kurikulum Berbasis Cinta untuk pendidikan madrasah dan Raudlatul Athfal (RA). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada kegiatan Forum Silahturahmi MTs dan MA Daerah Binaan Nur Laeli, bertempat di Padepokan Kalisoga, Desa Slatri Kec. Larangan Kamis, (8/1/2026).
Forum silaturahmi tersebut diikuti oleh sekitar 40 Orang peserta yang terdiri dari kepala madrasah dan guru MTs serta MA dari daerah binaan Pengawas Madrasah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman satuan pendidikan madrasah terhadap arah kebijakan kurikulum nasional yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan, moderasi, dan kasih sayang dalam proses pembelajaran.
Dalam pembinaannya, M. Aqsho menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan paradigma baru pendidikan madrasah yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang harus diperlakukan dengan empati, penghargaan, dan keteladanan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang berlandaskan nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Ia menjelaskan bahwa KMA 1503 mengusung prinsip pendidikan yang menumbuhkan Cinta kepada Tuhan, sesama manusia, Lingkungan, dan Bangsa. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran dan aktivitas pembelajaran di madrasah serta RA secara kontekstual dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, M. Aqsho mengajak para pendidik madrasah untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan iklim belajar yang ramah anak, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Guru dan kepala madrasah diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang inspiratif serta menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi peserta didik.
Menurutnya, implementasi kurikulum berbasis cinta juga menuntut keteladanan dari seluruh unsur pendidik. Nilai cinta, lanjutnya, harus tercermin dalam sikap, tutur kata, serta cara guru membimbing dan menilai peserta didik di lingkungan madrasah.
Sementara itu, Nur Laeli selaku Pengawas Madrasah menyampaikan harapannya agar forum silaturahmi ini menjadi penguatan bersama dalam memahami dan mengimplementasikan KMA 1503 secara nyata. Ia menekankan pentingnya keselarasan antara perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbasis nilai-nilai cinta.
Nur Laeli juga berharap melalui supervisi pembelajaran, para guru dan kepala madrasah mampu menerjemahkan konsep kurikulum berbasis cinta ke dalam praktik pembelajaran yang kreatif, humanis, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik secara utuh. Ia menambahkan bahwa pengawas madrasah akan terus melakukan pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan agar implementasi kurikulum berbasis cinta di MTs dan MA dapat berjalan optimal, sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam mewujudkan pendidikan madrasah yang unggul, moderat, dan berkarakter. (hid)








